"Jika orang melakukannya berulang kali, ini akan meregangkan kulit."
Trend kepala bagel di Jepang
(YouTube| Screenguard)
Caranya,
larutan garam steril atau saline disuntikkan ke dahi dengan jarum
infus. Setelah larutan 400 mililiter sudah membengkak di jidat, bagian
tengah benjolan itu lalu ditekan dengan ibu jari sampai bentuknya
menyerupai roti bagel.
Prosesnya makan waktu dua jam, sementara
hasilnya bertahan kurang dari 24 jam -- sebelum larutan saline terserap
ke dalam tubuh. Dan, percaya atau tidak, benjol aneh macam ini sedang
tren di Tokyo. Baru-baru ini bahkan disorot dalam episode "Taboo" di
National Geographic Channel.
Yang jadi pertanyaan, apakah mode aneh ini berbahaya bagi kesehatan?
Menurut
ahli kedokteran kulit dari Connecticut Skin Institute, Omar Ibrahimi,
"berpotensi membahayakan." Asisten profesor Harvard Medical School yang
berpengalaman menyuntikkan saline ke dalam tubuh selama prosedur bedah
kosmetik tersebut mengatakan, risiko pada prosedur kepala bagel tiga
kali lipat.
Pertama, meski tubuh dengan aman dapat menyerap
larutan garam normal yang disuntikkan di bawah kulit, di mana dokter
kadang-kadang menggunakannya sebagai anestesi lokal, namun, "larutan
saline yang terlalu terkonsentrasi dapat membebani kemampuan tubuh untuk
memproses garam," kata Ibrahim kepada situs sains,
Life's Little Mysteries.
Jika
proses pembentukan kepala bagel secara tak sengaja menggunakan larutan
garam hipertonik, bukan jenis normal, misalnya, orang tersebut bisa
menderita dehidrasi ekstrem, seperti yang terjadi jika seseorang meminum
air garam atau air laut.
Risiko yang kedua akan terjadi jika
larutan saline yang digunakan tidak steril. "Berisiko terkena infeksi
bakteri atau jamur," kata Ibrahimi. Meski sebagian besar patogen bisa
mati oleh sistem kekebalan tubuh manusia saat tertelan dalam saluran
pencernaan, namun jika dimasukkan langsung dalam kulit, seperti proses
pembenjolan bagel, patogen punya kesempatan lebih tinggi untuk
berkembang.
Kontaminasi air juga bisa dialami orang yang mentato
tubuhnya. Bulan lalu, penggunaan air yang tak steril sebagai pelarut
tinta tato mengakibatkan rerentetan kasus infeksi bakteri di empat
negara bagian AS. Infeksi tersebut menyebabkan ruam menyakitkan yang
bisa berlangsung berbulan-bulan, membutuhkan antibiotik kuat, dan dalam
beberapa kasus, operasi untuk mengobatinya.
Namun, bahkan
larutan paling steril sekalipun, kepala bagel bisa meninggalkan
penyesalan mendalam bagi orang yang berniat ikut-ikutan tren ini:
masalah estetika.
"Saya khawatir jika orang melakukannya
berulang kali, ini akan meregangkan kulit di luar elastisitas normal.
Kepala bagel bisa membuat kulit kendur secara permanen," kata Ibrahimi.
Kulit dahi yang kendur melorot: sebuah kecelakaan fashion.